kisah motivasiDahulu ada sebuah Kerajaan yang sangat aman, rakyatnya makmur dan sentosa. Raja ini selalu memperhatikan dan mementingkan kesejahteraan rakyatnya. Sang Raja selalu berkeliling negeri untuk melihat langsung kondisi rakyatnya.
Suatu hari Sang Raja mendengar rintihan seorang pemuda yang kelaparan. Si Ibu dengan suara lemah mengatakan kepada anaknya bahwa dia sudah tidak memiliki lagi persediaan makanan. Raja begitu terkejut di negerinya ada rakyatnya yang kelaparan.
Sang Raja berfikir sebentar. Kemudian dia membuat sebuah kesempatan untuk Sang pemuda tadi. Dia memerintahkan prajuritnya. untuk secara diam-diam membawa sang pemuda itu ke istana ketika dia sedang tidur, malam itu juga.
Ketika Pemuda itu tidur, secara diam-diam beberapa Prajurit membawa pemuda tanpa sepengatahuan siapapun termasuk pemuda itu sendiri.
Raja ingin memberikan jabatannya sebagai Raja selama sehari untuk si pemuda tersebut. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan si Pemuda.
Pagi harinya ketika terbangun dari tidurnya si pemuda tadi heran, dimanakah dia berada? Segera beberapa pembantu istana menjelaskan bahwa dia saat ini diistana kerajaan dan diangkat menjadi Raja.
Para Pembantu istana sibuk melayaninya. Sementara itu di tempat terpisah si ibu kebingungan dan cemas karena dia mendapati anaknya hilang dari rumahnya. Dicarinya kemana-mana tapi sang anak pujaan hati tetap tak ditemukannya. Siang harinya sambil menangis dan bercucuran air mata si ibu pergi ke istana Raja untuk meminta bantuan mencari anaknya ke pelosok negeri. Di gerbang istana siibu tertahan oleh Para Penjaga istana dan tidak diijinkan untuk bertemu dengan Raja.
Namun demikian, seorang Penjaga itu masuk ke dalam dan memberi tahu kepada Sang Raja baru (Pemuda anak ibu tersebut) bahwa di luar istana ada seorang ibu tua lusuh dan kelaparan yang sedang mencari anaknya yang hilang. Sang Raja kemudian memerintahkan untuk mensedekahkan satu karung beras kepada ibu tua miskin tersebut.
Malam harinya Sang Raja baru itu tidur kembali di kamarnya yang megah dan mewah. Tengah malam, Sang Raja yang asli dengan Para Pembantunya secara diam-diam kembali memindahkan pemuda yang sedang tidur lelap itu kembali ke rumah ibunya.
Esok pagi si ibu sangat gembira karena telah menemukan kembali anaknya yang hilang kemarin. Sebaliknya si Pemuda heran kenapa dia ada disini kembali. Si ibu bercerita bahwa kemarin dia mencarinya kesana-kemari hingga pergi ke istana untuk minta bantuan, dan pulangnya dia diberi oleh Raja sekarung beras. Si Anak segera menyadari bahwa dialah kemarin yang memberi sekarung beras itu.
Kemudian bergegas dia pergi ke istana dan menghadap Raja, dengan lugu dia minta diangkat kembali menjadi raja. Walau cuma sehari .
Sang Raja segera menolak dengan mengatakan bahwa waktu/kesempatannya menjadi raja sudah habis.
Si Pemuda tetap memohon, sambil menghiba-hiba Pemuda itu minta hanya sejam saja bahkan beberapa menit saja, tetapi Sang Raja tetap menolak.
Sang Pemuda pulang dengan hati penuh penyesalan. Kenapa dia sangat kikir ketika jadi Raja sehari itu, seandainya dia dermawan maka tidak hanya sekarung beras yang dia kirim tetapi mungkin berton-ton beras yang dia kirim.
----------------------------------------------
Tahukah anda ?..Itulah analogi kehidupan kita sekarang. Kelak di akhirat banyak orang-orang menyesal. Mereka tidak pernah atau tidak serius beramal untuk akhirat mereka. Mereka tidak mengirim beras ( pahala ) yang banyak untuk kampung akhirat mereka.
Mereka menghiba-hiba kepada Allah swt agar di hidupkan kembali ( dikembalikan ke dunia sekali lagi) :
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia agar kami bisa berbuat kebajikan yang amat banyak), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."
Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. " ( QS Al-Mukminun:107-108)
Ketika kita beramal, Sesungguhnya amal itu untuk diri kita sendiri !
"Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. ( QS Muhammad:38).
Tampilkan postingan dengan label kisah motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah motivasi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Oktober 2010
KISAH SANG TIKUS
Seekor tikus mengintip di balik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan.
Ada makanan pikirnya? Tapi si Tikus terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.
Si Tikus pun Lari kembali ke ladang pertanian, lalu berteriak memberi peringatan. "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah,
hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!"
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata,
"Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku pusing kepala."
Sang Tikus merasa sedih dan pergi menuju sang Kambing, dan berkata, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"
"Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur Si Tikus dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"
Dengan raut sedih Sang Tikus kemudian berbelok menuju si Lembu.
" Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Akhirnya sang tikus pun kembali ke rumah dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berhasil menangkap mangsanya.
Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap.
Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular yang sangat berbisa.
Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit. Si Istri kembali ke rumah dalam keadaan menggigil, demam.
Sudah menjadi kebiasaan setiap orang yang sakit demam panas, obat pertamanya adalah dengan diberikan sup ayam segar yang hangat,
jadi petani itu pun mengambil pisaunya dan pergi ke kandang ayam untuk memotongnya dan dijadikan Sup Ayam.
Namun bisa ular tersebut sangat ganas, Penyakit isterinya tak kunjung sembuh sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk menjamu para tamu yang datang.
Tak cukup disitu, Isteri petani itu lalu meninggal, sehingga makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk melayat/berta'zah ke pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu.
-----------------------------
Sahabat yang di Rahmati Allah. Jika anda mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah, janganlah anda berpikir bahwa masalah tersebut tidak ada kaitannya dengan anda, ingatlah bahwa sebuah "perangkap tikus" dapat menyebabkan seluruh "ladang pertanian" ikut menanggung risikonya. Ladang Pertanian Ibarat Lingkungan Kita Sehari2.
Maka berhentilah Mementingkan Diri Sendiri. Berhentilah Memikirkan Keselamatan SendiriKarena sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan daripada kebaikanya.
Mari kita buang sifat2 yang di wakili oleh tokoh cerita di atas.
si Ayam (Cuek) , si Lembu (Menertawakan orang lain), si Kambing (Munafik) dan si Ular (Lengah hingga terperangkap).
Teman-teman dan orang yang anda cintai diibarat seekor Tikus yang hendak diperangkap oleh iblis dan bala tentaranya, janganlah Anda bersikap seperti Ayam, Kambing dan Lembu.
Selamatkanlah mereka, ajaklah mereka bermuhasabah.
Ingatlah PENYESALAN itu datangnya di akhir, dan jangan sampai kita semua menyesal dan menanggung kerugian akibat Perangkap Tikus tersebut.
Ada makanan pikirnya? Tapi si Tikus terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.
Si Tikus pun Lari kembali ke ladang pertanian, lalu berteriak memberi peringatan. "Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah,
hati-hati, ada perangkap tikus di dalam rumah!"
Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata,
"Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara pribadi tak ada masalahnya. Jadi jangan buat aku pusing kepala."
Sang Tikus merasa sedih dan pergi menuju sang Kambing, dan berkata, "Ada perangkap tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus di rumah!"
"Wah, aku menyesal dengar khabar ini," si kambing menghibur Si Tikus dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"
Dengan raut sedih Sang Tikus kemudian berbelok menuju si Lembu.
" Oh? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Akhirnya sang tikus pun kembali ke rumah dengan kepala tertunduk dan merasa begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.
Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi perangkap tikus yang berhasil menangkap mangsanya.
Isteri petani berlari pergi melihat apa yang terperangkap.
Di dalam kegelapan itu dia tak bisa melihat bahwa yang terjebak itu adalah seekor ular yang sangat berbisa.
Ular itu sempat mematuk tangan isteri petani itu.
Petani itu bergegas membawanya ke rumah sakit. Si Istri kembali ke rumah dalam keadaan menggigil, demam.
Sudah menjadi kebiasaan setiap orang yang sakit demam panas, obat pertamanya adalah dengan diberikan sup ayam segar yang hangat,
jadi petani itu pun mengambil pisaunya dan pergi ke kandang ayam untuk memotongnya dan dijadikan Sup Ayam.
Namun bisa ular tersebut sangat ganas, Penyakit isterinya tak kunjung sembuh sehingga teman-teman dan tetangganya datang menjenguk, dari jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itu pun menyembelih kambingnya untuk menjamu para tamu yang datang.
Tak cukup disitu, Isteri petani itu lalu meninggal, sehingga makin banyak lagi orang-orang yang datang untuk melayat/berta'zah ke pemakamannya sehingga petani itu terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat memberi makan para pelayat itu.
-----------------------------
Sahabat yang di Rahmati Allah. Jika anda mendengar ada seseorang yang menghadapi masalah, janganlah anda berpikir bahwa masalah tersebut tidak ada kaitannya dengan anda, ingatlah bahwa sebuah "perangkap tikus" dapat menyebabkan seluruh "ladang pertanian" ikut menanggung risikonya. Ladang Pertanian Ibarat Lingkungan Kita Sehari2.
Maka berhentilah Mementingkan Diri Sendiri. Berhentilah Memikirkan Keselamatan SendiriKarena sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan daripada kebaikanya.
Mari kita buang sifat2 yang di wakili oleh tokoh cerita di atas.
si Ayam (Cuek) , si Lembu (Menertawakan orang lain), si Kambing (Munafik) dan si Ular (Lengah hingga terperangkap).
Teman-teman dan orang yang anda cintai diibarat seekor Tikus yang hendak diperangkap oleh iblis dan bala tentaranya, janganlah Anda bersikap seperti Ayam, Kambing dan Lembu.
Selamatkanlah mereka, ajaklah mereka bermuhasabah.
Ingatlah PENYESALAN itu datangnya di akhir, dan jangan sampai kita semua menyesal dan menanggung kerugian akibat Perangkap Tikus tersebut.
BELAJAR DARI KISAH BELALANG
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh?? padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?".
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, "Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan".
Saat itu sibelalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
---------------------------------
Terkadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada hati bahwa Anda bisa "Melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "kotak" itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?
Beruntung sekali, sebagai Khalifah Fil Ardhi kita dibekali Allah dengan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu sahabat,teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.
Sekali lagi sahabat, lupakanlah Kotak Masa Lalu Anda, Kotak Kenangan Pahit Anda yang membelenggu pikiran Anda.
Melompat dan melompatlah lebih jauh lagi, di depan ada kebahagiaan yang telah menanti dan telah Allah sediakan untuk kita semua.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, "Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh?? padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh?".
Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, "Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan".
Saat itu sibelalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.
---------------------------------
Terkadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang tersebut.
Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada hati bahwa Anda bisa "Melompat lebih tinggi dan lebih jauh" kalau Anda mau menyingkirkan "kotak" itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?
Beruntung sekali, sebagai Khalifah Fil Ardhi kita dibekali Allah dengan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu sahabat,teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.
Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.
Sekali lagi sahabat, lupakanlah Kotak Masa Lalu Anda, Kotak Kenangan Pahit Anda yang membelenggu pikiran Anda.
Melompat dan melompatlah lebih jauh lagi, di depan ada kebahagiaan yang telah menanti dan telah Allah sediakan untuk kita semua.
Kisah Gadis Kecil Yang Sholehah
Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi didalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa.Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yangsangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanyakepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkankepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dansesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidakmenyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentangtakwil mimpi tersebut.
Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benarseorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yangshalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidakjuga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahaldia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka iamengenakan celana panjang di balik rok tersebut.
Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah.Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenapperkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempatpermainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yangperpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjagashalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailahdia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuahkemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yangma'ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakanseorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalahseorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwapembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku serayaberkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaiankita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara diaadalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayanikalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagaipembantu kita!!"
Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantutersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebutmendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama, akusekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terusmendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Makaakupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pestapernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidakakan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujuipermintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnansangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuahgaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yangsangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengankecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini?Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpakami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Diamenyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan dikakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanyakepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insyaAllah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanyake rumah sakit.
Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalamsalah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaanTurki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat ituseorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. SementaraAfnan berbaring di atas ranjang.
Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya,dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkanseluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kamiduduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut diasangat bergembira dan berkata: "Alhamdulillah... alhamdulillah...alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalamkeadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah inihanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."
Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengankekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yangbersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya.Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannyameminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelumrontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencobauntuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akantetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak inginterhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."
Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya keAmerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambutoleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja diSaudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnanmelihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?"Dia menjawab: "Tidak."
Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuahkamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah saturuangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementarakedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwasesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpunmengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yangmendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.
Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecualimengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akanmenyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnansama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalahperasaan kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melaluiMessenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu,apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka diamencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untukmemasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satukalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalahmereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaansempurna." Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawabanAfnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahamisesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana diananti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitubagaimana nanti dia akan mati."
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya diatas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya denganmenekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius danjarum infus.
Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya sepertiorang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat diaterbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu' danshalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!
Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak adagunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akanmeninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Akuingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.
Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa diaberada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar,dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatirterjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi diatidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergikepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatkutercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajahAfnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihatkepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: "Ummi, kemarilah, aku maumenceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat." Kukatakan: "(Mimpi) yangbaik Insya Allah." Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantindi hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar.Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanyaberbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."
Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimutersebut." Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasannya aku akanmeninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupanmereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terusmengingatku, dan bersedih atas perpisahanku." Benarlah apa yangdikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, akumenahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali akumengingatnya, akupun bersedih atasnya.
Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat ituAfnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata:"Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapunmenciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua."Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembaliberbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan,ucapkanlah la ilaaha illallah."
Maka dia berkata: "Asyhadu alla ilaaha illallah."
Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhaduallaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudiandia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadanrasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.
Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyakkasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takutakan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamartersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil'aalamin. (AR)*
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi didalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa.Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yangsangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanyakepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkankepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dansesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidakmenyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentangtakwil mimpi tersebut.
Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benarseorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yangshalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidakjuga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahaldia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka iamengenakan celana panjang di balik rok tersebut.
Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah.Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenapperkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempatpermainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yangperpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjagashalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailahdia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuahkemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yangma'ruf, dan senantiasa menjaga hijabnya.
Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.
Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:
Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakanseorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalahseorang karyawan. Ia beragama Nasrani. Setelah Afnan mengetahui bahwapembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku serayaberkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaiankita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara diaadalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayanikalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagaipembantu kita!!"
Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantutersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebutmendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama, akusekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terusmendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Makaakupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.
Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pestapernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidakakan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujuipermintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnansangat mencintai pamannya tersebut.
Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuahgaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yangsangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengankecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini?Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?
Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpakami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Diamenyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan dikakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanyakepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insyaAllah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanyake rumah sakit.
Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalamsalah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaanTurki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat ituseorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. SementaraAfnan berbaring di atas ranjang.
Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya,dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkanseluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kamiduduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut diasangat bergembira dan berkata: "Alhamdulillah... alhamdulillah...alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalamkeadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah inihanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."
Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!
Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengankekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yangbersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya.Adapun penerjamah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!
Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.
Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannyameminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelumrontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencobauntuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akantetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak inginterhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."
Kami (aku, suamiku dan Afnan) pergi untuk yang pertama kalinya keAmerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambutoleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja diSaudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnanmelihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?"Dia menjawab: "Tidak."
Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuahkamar yang kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah saturuangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementarakedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwasesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpunmengajaknya kepada Islam. Dan di sini datang seorang gadis kecil yangmendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.
Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecualimengamputasi kakinya, karena dikhawatirkan kanker tersebut akanmenyebar sampai ke paru-paru dan akan mematikannya. Akan tetapi Afnansama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalahperasaan kedua orang tuanya.
Pada suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melaluiMessenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu,apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka diamencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin bagi mereka untukmemasang kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satukalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalahmereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaansempurna." Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawabanAfnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan. Aku tidak memahamisesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana diananti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitubagaimana nanti dia akan mati."
Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!
Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya diatas ranjang, dan di sisinya terdapat sebuah tombol. Hanya denganmenekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius danjarum infus.
Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan, dan keadaannya sepertiorang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat diaterbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu' danshalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!
Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mengabari kami bahwa tidak adagunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akanmeninggal. Maka memungkinkan bagi kami untuk membawanya ke rumah. Akuingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.
Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.
Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa diaberada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar,dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatirterjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi diatidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergikepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatkutercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajahAfnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihatkepadaku kemudian tersenyum. Dia berkata: "Ummi, kemarilah, aku maumenceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat." Kukatakan: "(Mimpi) yangbaik Insya Allah." Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantindi hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar.Engkau, dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanyaberbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."
Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimutersebut." Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasannya aku akanmeninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupanmereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terusmengingatku, dan bersedih atas perpisahanku." Benarlah apa yangdikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, akumenahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali akumengingatnya, akupun bersedih atasnya.
Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku, dan ibuku. Saat ituAfnan berbaring di atas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata:"Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapunmenciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua."Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembaliberbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan,ucapkanlah la ilaaha illallah."
Maka dia berkata: "Asyhadu alla ilaaha illallah."
Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhaduallaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudiandia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadanrasuulullaah." Dan keluarlah rohnya.
Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyakkasturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, keluargaku takutakan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamartersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillahi rabbil'aalamin. (AR)*
Mangkuk yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut
RasulullahSAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a., Umar r.a., Usman r.a.,dan 'Ali r.a., berada di rumah Sayyidina Ali r.a. Di rumah Ali r.a.isterinya Sayyidatina Fatimah r.ha. puteri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut berada didalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta semua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
Sayyidina Abu Bakar r.a. berkata: "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina Umar r.a. berkata:"Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina Usman r.a. berkata : "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina 'Ali r.a. berkata: "Pera Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu para tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat para tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina Fatimah r.ha.berkata: "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang berpurdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Rasulullah SAW berkata:"Seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Malaikat Jibril AS berkata: "Menegakkan ciri-ciri agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Allah SWT berfirman, " Syurga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat Syurga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju Syurga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Begitulah ucapan-ucapan yang diutarakan oleh Allah taala, Malaikat Jibril alaihissalam, Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat r.anhum yang menggambarkan bahwa matlamat hidup seseorang ciptaan Allah taala,khususnya manusia adalah semata-mata penghujungnya untuk menegakkan Agama Islam di atas bumi ini. Wallahu'alam
Sayyidina Abu Bakar r.a. berkata: "Iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina Umar r.a. berkata:"Kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina Usman r.a. berkata : "Ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina 'Ali r.a. berkata: "Pera Tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu para tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat para tamu senang sampai kembali pulang ke rumahnya adalah lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Sayyidina Fatimah r.ha.berkata: "Seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang berpurdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Rasulullah SAW berkata:"Seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Malaikat Jibril AS berkata: "Menegakkan ciri-ciri agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri, harta dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti di atas sehelai rambut".
Allah SWT berfirman, " Syurga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat Syurga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju Syurga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Begitulah ucapan-ucapan yang diutarakan oleh Allah taala, Malaikat Jibril alaihissalam, Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat r.anhum yang menggambarkan bahwa matlamat hidup seseorang ciptaan Allah taala,khususnya manusia adalah semata-mata penghujungnya untuk menegakkan Agama Islam di atas bumi ini. Wallahu'alam
Wanita Pertama Yang Masuk Surga
kisaSuatu ketika Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW bertanya kepada ayahandanya, "Ayahanda, siapa wanita pertama yang akan masuk surga ?"
Rasulullah SAW menjawab,"Muthia'."
Siapa Muthia' itu? Apa yang dilakukannya sampai ia mendapat kemuliaan yang begitu tinggi hingga menjadi wanita pertama yang masuk surga?
Fatimah sangat ingin tahu. Fatimah segera meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, untuk mengunjungi wanita bernama Muthia' ini.
Ketika ia akan berangkat, anak sulungnya yang masih kecil merengek minta ikut. Anak itu bernama Hasan. Fatimah pun mengajak serta Hasan.
Tiba di depan rumah Muthia', Fatimah bersalam."Assalamualaikum!"
"Alaikumussalam!" sahut Muthia' dari dalam rumahnya."Siapa diluar?"
"Fatimah, putri Rasulullah."
"Alhamdulillah, betapa bahagia aku hari ini menerima kunjungan putri mulia! Apakah Anda sendirian, Fatimah?"
"Aku ditemani anak laki-lakiku, Hasan."
"Aduh, maaf Fatimah.Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki."
"Tetapi Hasan masih kecil."
"Biarpun masih kecil, Hasan itu laki-laki. Datanglah besok. Saya akan meminta izin suami saya untuk menerima tamu laki-laki."
Fatimah heran bukan main. Ia segera berpamitan dan pulang. Keesokan harinya, Fatimah datang lagi. Selain Hasan, Husain juga ikut. Husain adalah anak laki-laki kedua Fatimah.
Seperti halnya kemarin, Fatimah bersalam di depan pintu rumah Muthia'. "Apa Anda bersama Hasan, Fatimah?" tanya Muthia' dari dalam rumahnya.
"Ya. Husain juga ikut."
"Oh, maaf Fatimah. Saya hanya mendapat izin untuk menerima tamu Hasan. Saya belum meminta izin untuk menerima Husain. Kemarin Anda tidak bilang akan datang bersama Husain."
Fatimah pulang tanpa bisa memasuki rumah Muthia'. Baru keesokan harinya dia bisa memasuki rumah itu bersama Hasan dan Husain, kedua anak kembarnya. Rumah itu sangat sederhana, namun bersih dan nyaman sekali, membuat orang betah tinggal di dalamnya. Hasan dan Husain yang biasanya tidak suka berada di rumah orang pun menjadi betah di sana.
"Maaf, saya tidak bisa menemani Anda, Fatimah. Saya harus menyiapkan makanan untuk suami saya," kataMuthia'.
Muthia' terus sibuk di dapur untuk memasak. Ketika masakan itu sudah siap, ia menaruhnya di atas baki. Menaruh sebatang cambuk pula dibaki itu.
"Saya akan mengantar makanan kepada suami saya yang sedangbekerja," kata Muthia'.
"Maaf, saya tidak bisa menemani Anda."
Fatimah melihat cambuk di atas baki itu. Seperti cambuk gembala kambing."Apa suamimu seorang gembala?" tanya Fatimah.
"Bukan. Suami saya petani."
"Mengapa kamu membawa cambuk kepadanya?"
"Cambuk ini akan saya berikan kepada suami saya. Selagi dia makan. Saya akan bertanya apa makanan itu cocok dengan seleranya. Kalau dia bilang tidak, saya minta dia mencambuk punggung saya. Itu sebagai hukuman bagi istri yang tidak bisa menyenangkan hati suaminya."
"Apa suamimu orang kejam yang suka menyiksa istri?"
"Bukan, sama sekali bukan. Suami saya sangat lembut dan pengasih. Sayalah yang meminta dia mencambuk punggung saya kalau makanan ini tidak cocok dengan seleranya. Itu saya lakukan agar saya tidak menjadi istri yang durhaka kepada suami."
Fatimah kagum bukan main kepada Muthia'. Inilah istri yang sangat berbakti kepada suaminya. Pantaslah kalau dia mendapat kehormatan untuk memasuki surga yang pertama kali.
Rasulullah SAW menjawab,"Muthia'."
Siapa Muthia' itu? Apa yang dilakukannya sampai ia mendapat kemuliaan yang begitu tinggi hingga menjadi wanita pertama yang masuk surga?
Fatimah sangat ingin tahu. Fatimah segera meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, untuk mengunjungi wanita bernama Muthia' ini.
Ketika ia akan berangkat, anak sulungnya yang masih kecil merengek minta ikut. Anak itu bernama Hasan. Fatimah pun mengajak serta Hasan.
Tiba di depan rumah Muthia', Fatimah bersalam."Assalamualaikum!"
"Alaikumussalam!" sahut Muthia' dari dalam rumahnya."Siapa diluar?"
"Fatimah, putri Rasulullah."
"Alhamdulillah, betapa bahagia aku hari ini menerima kunjungan putri mulia! Apakah Anda sendirian, Fatimah?"
"Aku ditemani anak laki-lakiku, Hasan."
"Aduh, maaf Fatimah.Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki."
"Tetapi Hasan masih kecil."
"Biarpun masih kecil, Hasan itu laki-laki. Datanglah besok. Saya akan meminta izin suami saya untuk menerima tamu laki-laki."
Fatimah heran bukan main. Ia segera berpamitan dan pulang. Keesokan harinya, Fatimah datang lagi. Selain Hasan, Husain juga ikut. Husain adalah anak laki-laki kedua Fatimah.
Seperti halnya kemarin, Fatimah bersalam di depan pintu rumah Muthia'. "Apa Anda bersama Hasan, Fatimah?" tanya Muthia' dari dalam rumahnya.
"Ya. Husain juga ikut."
"Oh, maaf Fatimah. Saya hanya mendapat izin untuk menerima tamu Hasan. Saya belum meminta izin untuk menerima Husain. Kemarin Anda tidak bilang akan datang bersama Husain."
Fatimah pulang tanpa bisa memasuki rumah Muthia'. Baru keesokan harinya dia bisa memasuki rumah itu bersama Hasan dan Husain, kedua anak kembarnya. Rumah itu sangat sederhana, namun bersih dan nyaman sekali, membuat orang betah tinggal di dalamnya. Hasan dan Husain yang biasanya tidak suka berada di rumah orang pun menjadi betah di sana.
"Maaf, saya tidak bisa menemani Anda, Fatimah. Saya harus menyiapkan makanan untuk suami saya," kataMuthia'.
Muthia' terus sibuk di dapur untuk memasak. Ketika masakan itu sudah siap, ia menaruhnya di atas baki. Menaruh sebatang cambuk pula dibaki itu.
"Saya akan mengantar makanan kepada suami saya yang sedangbekerja," kata Muthia'.
"Maaf, saya tidak bisa menemani Anda."
Fatimah melihat cambuk di atas baki itu. Seperti cambuk gembala kambing."Apa suamimu seorang gembala?" tanya Fatimah.
"Bukan. Suami saya petani."
"Mengapa kamu membawa cambuk kepadanya?"
"Cambuk ini akan saya berikan kepada suami saya. Selagi dia makan. Saya akan bertanya apa makanan itu cocok dengan seleranya. Kalau dia bilang tidak, saya minta dia mencambuk punggung saya. Itu sebagai hukuman bagi istri yang tidak bisa menyenangkan hati suaminya."
"Apa suamimu orang kejam yang suka menyiksa istri?"
"Bukan, sama sekali bukan. Suami saya sangat lembut dan pengasih. Sayalah yang meminta dia mencambuk punggung saya kalau makanan ini tidak cocok dengan seleranya. Itu saya lakukan agar saya tidak menjadi istri yang durhaka kepada suami."
Fatimah kagum bukan main kepada Muthia'. Inilah istri yang sangat berbakti kepada suaminya. Pantaslah kalau dia mendapat kehormatan untuk memasuki surga yang pertama kali.
KISAH SEORANG PEMUDA DAN BATU BESAR
Alkisah, pada jaman dahulu di sebuah negeri, seorang raja yang bijaksana berniat untuk menguji rakyatnya. Di suatu malam, diam-diam ia memerintahkan pasukannya untuk menutup jalan utama — yang biasa digunakan untuk berdagang — dengan sebuah batu yang cukup besar sehingga tidak mungkin dapat dilewati.
Keesokan harinya, satu demi satu penduduk yang melewati jalan tersebut terlihat berbalik arah untuk mengambil jalan memutar yang lebih jauh, dengan wajah kesal dan terus mengomel. Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa saat.
Hingga tibalah giliran seorang pemuda dengan terburu-buru melangkahkan kakinya di jalan tersebut. Ia terhenyak ketika mengetahui bahwa ada batu besar yang menutupi jalan tersebut. Orang-orang yang kebetulan sedang berada di sana menyarankan dia untuk menempuh jalan memutar yang setidaknya tiga kali lebih jauh jaraknya. Pemuda tersebut terdiam. Keningnya berkerut menandakan ia sedang berpikir keras. Tak lama, tanpa diduga oleh penduduk yang lain, ia pun berjalan mendekati batu tersebut dan mendorongnya.
“Percuma!” ujar seorang bapak yang sedang membawa sekeranjang wortel, “kami juga sudah mencobanya dan batu itu sama sekali tidak mau bergerak.”
Penduduk yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Sebagian bahkan mulai menatap pemuda tersebut dengan sinis.
“Si Herikules saja tidak mampu mendorongnya. Mana mungkin kamu bisa?”, teriak seorang wanita berbaju batik, diikuti dengan tawa cemooh orang-orang yang ternyata semakin banyak jumlahnya. Aksi nekat pemuda tersebut rupanya menarik minat mereka untuk menjadi penonton.
Tanpa menghiraukan mereka, pemuda tersebut dengan sekuat tenaga terus mendorong… Mendorong… Mendorong… Mendorong… Hingga tiba-tiba… GRRKKKK.. batu besar itu bergeser! Penduduk yang melihatnya terkaget-kaget dan hanya bisa melongo menyaksikan pemuda tersebut, dengan mengerahkan tenaganya yang masih tersisa, mulai menggeserkan batu tersebut sedikit demi sedikit hingga akhirnya jalan tersebut cukup lebar kembali untuk bisa dilewati.
Merasa lelah, pemuda tersebut pun terduduk di tanah. Di saat yang sama ia melihat ada sebuah kotak kayu kecil, yang sedikit tertimbun oleh pasir. Letaknya persis di bawah batu besar tadi. Penasaran, ia pun mengambil kotak tersebut, membukanya, dan menemukan ratusan koin emas di dalamnya beserta sepucuk surat dari sang raja — lengkap dengan stempel kerajaan dan tanda tangan beliau — yang menyatakan bahwa siapa saja yang mampu menyingkirkan batu tersebut berhak atas segala yang ada di dalam kotak kayu.
Pemuda tersebut tidak bisa menahan rasa harunya. Butiran air mata berjatuhan satu demi satu.
“Nak,” ibu-ibu berbaju batik menyentuh pundaknya. Ia menoleh ke arah ibu tersebut. “Bagaimana mungkin kamu bisa mendorong batu sebesar itu? Apa rahasianya? Aku rasa kamu tidak mungkin lebih kuat dari Herikules.”
“Saya memang tidak lebih kuat dari Herikules, bu,” jawab pemuda tersebut lirih, “namun, jika ibu berada pada posisi saya, dengan kedua orang tua yang sakit keras dan satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan mereka hanya dapat dibeli di apotik yang ada di ujung jalan ini, saya yakin ibu pun pasti mampu untuk mendorong batu tadi.”
Keesokan harinya, satu demi satu penduduk yang melewati jalan tersebut terlihat berbalik arah untuk mengambil jalan memutar yang lebih jauh, dengan wajah kesal dan terus mengomel. Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa saat.
Hingga tibalah giliran seorang pemuda dengan terburu-buru melangkahkan kakinya di jalan tersebut. Ia terhenyak ketika mengetahui bahwa ada batu besar yang menutupi jalan tersebut. Orang-orang yang kebetulan sedang berada di sana menyarankan dia untuk menempuh jalan memutar yang setidaknya tiga kali lebih jauh jaraknya. Pemuda tersebut terdiam. Keningnya berkerut menandakan ia sedang berpikir keras. Tak lama, tanpa diduga oleh penduduk yang lain, ia pun berjalan mendekati batu tersebut dan mendorongnya.
“Percuma!” ujar seorang bapak yang sedang membawa sekeranjang wortel, “kami juga sudah mencobanya dan batu itu sama sekali tidak mau bergerak.”
Penduduk yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju. Sebagian bahkan mulai menatap pemuda tersebut dengan sinis.
“Si Herikules saja tidak mampu mendorongnya. Mana mungkin kamu bisa?”, teriak seorang wanita berbaju batik, diikuti dengan tawa cemooh orang-orang yang ternyata semakin banyak jumlahnya. Aksi nekat pemuda tersebut rupanya menarik minat mereka untuk menjadi penonton.
Tanpa menghiraukan mereka, pemuda tersebut dengan sekuat tenaga terus mendorong… Mendorong… Mendorong… Mendorong… Hingga tiba-tiba… GRRKKKK.. batu besar itu bergeser! Penduduk yang melihatnya terkaget-kaget dan hanya bisa melongo menyaksikan pemuda tersebut, dengan mengerahkan tenaganya yang masih tersisa, mulai menggeserkan batu tersebut sedikit demi sedikit hingga akhirnya jalan tersebut cukup lebar kembali untuk bisa dilewati.
Merasa lelah, pemuda tersebut pun terduduk di tanah. Di saat yang sama ia melihat ada sebuah kotak kayu kecil, yang sedikit tertimbun oleh pasir. Letaknya persis di bawah batu besar tadi. Penasaran, ia pun mengambil kotak tersebut, membukanya, dan menemukan ratusan koin emas di dalamnya beserta sepucuk surat dari sang raja — lengkap dengan stempel kerajaan dan tanda tangan beliau — yang menyatakan bahwa siapa saja yang mampu menyingkirkan batu tersebut berhak atas segala yang ada di dalam kotak kayu.
Pemuda tersebut tidak bisa menahan rasa harunya. Butiran air mata berjatuhan satu demi satu.
“Nak,” ibu-ibu berbaju batik menyentuh pundaknya. Ia menoleh ke arah ibu tersebut. “Bagaimana mungkin kamu bisa mendorong batu sebesar itu? Apa rahasianya? Aku rasa kamu tidak mungkin lebih kuat dari Herikules.”
“Saya memang tidak lebih kuat dari Herikules, bu,” jawab pemuda tersebut lirih, “namun, jika ibu berada pada posisi saya, dengan kedua orang tua yang sakit keras dan satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan mereka hanya dapat dibeli di apotik yang ada di ujung jalan ini, saya yakin ibu pun pasti mampu untuk mendorong batu tadi.”
Kisah Monyet Yang Sukses
Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh para profesor di USA, ada 2 ekor monyet yang dimasukkan ke dalam satu ruangan kosong secara bersama-2. Kita sebut saja monyet tersebut Monyet A dan B. Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tiang, dan diatas tiang tersebut nampak beberapa pisang yang sudah matang. Apa yang akan dilakukan oleh 2 monyet tersebut menurut anda ?
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.
Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. “Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?” protes keduanya”.
Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh” jelas monyet C.
Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. “Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas … Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?” tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik …
Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya…..
====================================
Sahabat Muhasabah, Manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku sahabat saat ini ?
Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka.
Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal-2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri.
Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.
Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur. Orang-2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal-2 seperti ini”, Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-2 seperti itu. Percuma. Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali-2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya” atau mungkin kalimat “Kamu mau gagal kayak si X … lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh”. Bukankah hal-2 seperti itu yang sering kita dengar sehari-2 ?
Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. “Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal” adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya.
Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.
Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata “Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar ? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho”.
Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila.
Berapa orang yang akan menjawab “Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama-2 kaya ?” Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.
Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi orang terkaya di dunia ?
Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type ABCD, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.
Sahabat Muhasabah, saya yakin Sahabat semua adalah orang yang ber-type E. Setidaknya karena Sahabat sudah mau bergabung di Muhasabah ini untuk belajar bersama, berbagi bersama, dan maju serta sukses bersama. Jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda.
Ingatlah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS Ar-Ra'd : 11)
Setelah membiasakan diri dengan keadaan lingkungan di dalam ruangan tersebut, mereka mulai mencoba meraih pisang-2 tersebut. Monyet A yang mula-2 mencoba mendaki tiang. Begitu monyet A berada di tengah tiang, sang profesor menyemprotkan air kepadanya, sehingga terpleset dan jatuh. Monyet A mencoba lagi, dan disemprot, jatuh lagi, demikian berkali-2 sampai akhirnya monyet A menyerah. Giliran berikutnya monyet B yang mencoba, mengalami kejadian serupa, dan akhirnya menyerah pula.
Berikutnya ke dalam ruangan dimasukkan monyet C. Yang menarik adalah, para profesor tidak akan lagi menyemprot para monyet jika mereka naik. Begitu si monyet C mulai menyentuh tiang, dia langsung ditarik oleh monyet A dan B. Mereka berusaha mencegah, agar monyet C tidak mengalami `kesialan’ seperti mereka. Karena dicegah terus dan diberi nasehat tentang bahayanya bila mencoba memanjat keatas, monyet C akhirnya takut juga dan tidak pernah memanjat lagi.
Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh para profesor adalah mengeluarkan monyet A dan B, serta memasukkan monyet D dan E. Sama seperti monyet-2 sebelumnya, monyet D dan E juga tertarik dengan pisang diatas tiang dan mencoba memanjatnya. Monyet C secara spontan langsung mencegah keduanya agar tidak naik. “Hai, mengapa kami tidak boleh naik ?” protes keduanya”.
Ada teman-2 yang memberitahu saya, bahwa naik ke atas itu berbahaya. Saya juga tidak tahu, ada apa di atas, tapi lebih baik cari aman saja, jangan keatas deh” jelas monyet C.
Monyet D percaya dan tidak berani naik, tapi tidak demikian dengan monyet E yang memang bandel. “Saya ingin tahu, bahaya seperti apa sih, yang ada di atas … Dan kalau ada bahaya, masak iya saya tidak bisa menghindarinya ?” tegas monyet E. Walaupun sudah dicegah oleh monyet C dan D, monyet E nekad naik …
Dan karena memang sudah tidak disemprot lagi, monyet E bisa meraih pisang yang d iinginkannya…..
====================================
Sahabat Muhasabah, Manakah diantara karakter diatas yang menggambarkan tingkah laku sahabat saat ini ?
Karakter A dan B adalah orang yang pernah melakukan sesuatu, dan gagal. Karena itu mereka kapok, tidak akan mengulanginya lagi, dan berusaha mengajarkan ke orang lain tentang kegagalan tersebut. Mereka tidak ingin orang lain juga gagal seperti mereka.
Karakter C dan D, adalah orang yang menerima petunjuk dari orang lain, hal-2 apa yang tidak boleh dilakukan, dan mereka mematuhinya tanpa berani mencobanya sendiri.
Karakter E adalah type orang yang tidak mudah percaya dengan sesuatu, sebelum mereka mencobanya sendiri. Mereka juga berani menentang arus dan menanggung resiko asalkan bisa mencapai keinginan mereka.
Pisang dalam cerita diatas menggambarkan impian kita. Setiap orang dalam hidup ini mempunyai impian yang tinggi tentang masa depannya. Namun sayangnya, banyak sekali hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang menyebabkan impian kita terkubur. Orang-2 dengan karakter ABCD akan mengatakan kepada kita hal-2 seperti ini”, Sudahlah, jangan melakukan pekerjaan yang sia-2 seperti itu. Percuma. Saya dulu sudah pernah melakukannya berkali-2 dan gagal. Sebagai seorang teman yang baik, saya tidak mau kamu gagal seperti saya” atau mungkin kalimat “Kamu mau gagal kayak si X … lebih baik lakukan sesuatu yang pasti-pasti saja deh”. Bukankah hal-2 seperti itu yang sering kita dengar sehari-2 ?
Orang dengan karakter E akan selalu berpikir optimis dalam menjalankan sesuatu. “Kalaupun orang lain gagal melakukan sesuatu, belum tentu saya juga akan gagal” adalah kekuatan yang selalu memompa motivasinya.
Dan kegagalan orang lain dapat dipelajari dan dijadikan batu loncatan untuk melangkah lebih baik, bukannya dijadikan suatu ketakutan.
Nah, saya akan memberikan satu ilustrasi lagi. Saya akan membawa anda ke tahun 70-an. Apa yang akan anda lakukan, bila suatu hari ada seorang mahasiswa bercelana jeans, kacamata tebal, bertampang culun, bajunya lusuh, datang menemui anda dan berkata “Saya punya suatu produk yang bagus, tapi saya tidak punya modal. Mau gak pinjamin saya modal 100 dollar ? Kalau produk ini sukses, kita berdua bakal jadi orang paling kaya di dunia lho”.
Hampir semua akan menghina dan mentertawakan mahasiswa tsb, bahkan mungkin menganggapnya gila.
Berapa orang yang akan menjawab “Wow, bagus sekali, coba jelaskan apa rencana anda, agar kita bisa sama-2 kaya ?” Mungkin satu orang diantara sejuta, mungkin juga tidak ada.
Bagaimana kalau saya katakan bahwa mahasiswa tersebut adalah Bill Gates, yang kini sudah mencapai impiannya menjadi orang terkaya di dunia ?
Bukankah itu dulu yang dilakukan Bill Gates pada awal karirnya . Dikelilingi orang type ABCD, ditolak, dilecehkan, dan berbagai macam hinaan lainnya. Untungnya, Bill Gates termasuk orang dengan karakter E. Dan dengan pengorbanan dan kerja keras, dia berhasil meraih impiannya.
Sahabat Muhasabah, saya yakin Sahabat semua adalah orang yang ber-type E. Setidaknya karena Sahabat sudah mau bergabung di Muhasabah ini untuk belajar bersama, berbagi bersama, dan maju serta sukses bersama. Jangan biarkan orang lain membunuh impian anda. Maju terus, hadapi semua rintangan dan raih impian anda.
Ingatlah “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” (QS Ar-Ra'd : 11)
Rabu, 06 Oktober 2010
Pelajaran Dari Bocah Misterius
Bocah itu menjadi pembicaraan dikampungku. Sudah tiga hari iniia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya,menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga harisemenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
************ ********* **
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung,belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itudatang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.
"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran"pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret denganhalus bocah itu, dan membawanya ke rumah.
Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. " Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. Suaranya keras menggelegar ketika menyahuti ucapan luqman:
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua..?! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput kami satu persatu?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpamemberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, menghidangkannya di waktu akan berbuka puasa, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut buka puasa? bahkan kalian bilang menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Tuan..,sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan..,kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat..Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut akan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak.... Doa-doa kami, doa anak yang teraniaya yang tidak punya rumah dan hanya makan 3 hari sekali adalah doa yg langsung didengar di langit. Apakah tuan tidak takut jika kami mendoakan tuan agar binasa? tapi itu tidak kami lakukan, karena meskipun kami miskin tapi kami bukan orang pendendam seperti tuan-tuan yg terhormat diluar sana..
Orang-orang seperti tuanlah yang melupakan kami dan mengacuhkan kami. Bahkan ketika kami terpaksa mengemis karena 3 hari perut ini tidak kemasukan satu butir nasipun, tuan memberi uang receh 500 rupiah kepada kami dengan melempar. Apakah yg ada dalam pikiran tuan saat melempar uang receh 500 rupiah itu kepada kami? Kalau tuan merasa sakit hati dengan apa yg saya lakukan, saya lebih sakit hati dengan apa yang tuan lakukan pada kami dalam sebelas bulan.."
************ ********* *
Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Dikejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, mereka yg tinggal di lampu2 merah dan di kolong jembatan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah,dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa ini. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak,ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
*repost
Renungan dan Motivasi : Ifta Istiany Notes
Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.
Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.
Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga harisemenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.
Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.
Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.
************ ********* **
Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung,belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!
Tidak lama Luqman menunggu, bocah itudatang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu.Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.
"Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran"pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret denganhalus bocah itu, dan membawanya ke rumah.
Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. " Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.
"Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi. Suaranya keras menggelegar ketika menyahuti ucapan luqman:
"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua..?! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?
Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput kami satu persatu?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?"
Bocah itu terus saja berbicara tanpamemberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.
Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, menghidangkannya di waktu akan berbuka puasa, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut buka puasa? bahkan kalian bilang menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?
Tuan..,sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan..,kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...!
Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat..Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut akan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak.... Doa-doa kami, doa anak yang teraniaya yang tidak punya rumah dan hanya makan 3 hari sekali adalah doa yg langsung didengar di langit. Apakah tuan tidak takut jika kami mendoakan tuan agar binasa? tapi itu tidak kami lakukan, karena meskipun kami miskin tapi kami bukan orang pendendam seperti tuan-tuan yg terhormat diluar sana..
Orang-orang seperti tuanlah yang melupakan kami dan mengacuhkan kami. Bahkan ketika kami terpaksa mengemis karena 3 hari perut ini tidak kemasukan satu butir nasipun, tuan memberi uang receh 500 rupiah kepada kami dengan melempar. Apakah yg ada dalam pikiran tuan saat melempar uang receh 500 rupiah itu kepada kami? Kalau tuan merasa sakit hati dengan apa yg saya lakukan, saya lebih sakit hati dengan apa yang tuan lakukan pada kami dalam sebelas bulan.."
************ ********* *
Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.
Dikejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!
Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.
Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, mereka yg tinggal di lampu2 merah dan di kolong jembatan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.
Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah,dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.
Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa ini. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.
Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak,ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang. Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.
Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya,selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.
*repost
Renungan dan Motivasi : Ifta Istiany Notes
Langganan:
Postingan (Atom)